Ini 4 Strategi Tingkatkan Ekonomi Masyarakat NU

Sragen, NU Care – Lazisnu

Pada hari kedua Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) NU Care-LAZISNU di Pesantren Walisongo Sragen, Jawa Tengah, Selasa (30/1), Ketua PBNU Sulton Fathoni memaparkan lima model strategi yang harus diterapkan oleh NU sebagai gerakan nasional sosial keagamaan untuk meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat NU.

Pertama, NU Care-LAZISNU di tingkat cabang sudah menjadi model sedekah ZISWAF membantu sesama dengan cara Koin NU. Hal ini sudah diterapkan dan dibuktikan fungsinya di PCNU Sragen, Banyumas, Jombang, Bantul.

“Kita sudah menemukan model nasional dan perlu konsisten,” ungkap Wakil Rektor II Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Keberhasilan itu, kata dia pernah mendapatkan cibiran pada tahun lalu meresmikan Gerakan Koin NU di Sragen. Namun, dibuktikan Koin NU di Sragen konsisten dan membuktikan pencapaian 5,8 miliar setiap satu selapanan (35 hari sekali).

“Gerakan NU Care-LAZISNU dengan Koin Nusantara seluruh Indonesia oleh harus diupayakan oleh struktural NU,” tutur dia.

Kedua, pendirian BMT model oleh masing MWC atau PCNU di seluruh Indonesia sebagai gerakan nasional di bidang sosial keagamaan dan kualitas hidup warga NU.

“Kekuatan BMT tidak seperti  BPR yang dimiliki segelintir orang dan keuntungannya untuk segelintir orang. Kalau Bank dan BPR itu konglomerasi, 80 persen ke pribadi keuntungannya. Itu hanya dimiliki 2-3 orang,” tambah pria yang juga pernah aktif di LTN PBNU.

Ia memaparkan perbedaan koperasi dengan BPR, model koperasi cocok dengan gerakan sosial keagamaan NU. Aset tersebut dapat kembali ke masyarakat.

“Jadi gerakan koperasi bukan karena kerdil. Ini pilihan NU sesuai dengan misi dan visi NU membantu masyarakat,” ungkapnya.

Ketiga, PBNU sudah melangkah melalui donasi via daring melalui dananu.org. Melalui model ini, NU berusaha memfasilitasi umat untuk membantu keberlangsungan ekonomi umat.

Iuaran anggota, donasi, zakat, dan dana abadi  telah disediakan oleh melalui dananu.org.

Keempat, mitra bisnis harus dilirik warga  NU, mari bermitra dengan pengusaha dikarenakan banyak pengusaha melirik pasar NU.

“Pengusaha yang ingin memasarkan di lingkungan NU. Biasanya menerapkan 2,5 ke NU. Ada juga model saham 10 persen untuk NU. Itu salah satu fungsi membantu warga NU sendiri,” ia menambahkan.

Untuk itu persoalan bisnis harus diurus oleh warga NU seperti di Amerika di mana universitas ditopang oleh alumni. Prinsip properti universitas untuk mengembangkan usaha mereka yang kembali ke universitas.

“NU harus belajar dari model tersebut. Dari NU untuk NU sendiri, ” tandasnya.

Model tersebut bukan tanpa jejak, Qanun Asasi pada 1928, Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari mengutarakan NU sebagai jamiyatul ikhsan dan islah (sebuah gerakan para kiai dan pengikutnya) membantu masyarakat meningkat kualitas hidup dan mengupayakan kemakmuran masyarakat.

“Kualitas immateri dan materi sama pentingnya. Baik berupa pengetahuan maupun ekonomi warga NU sendiri. Ini capaian oleh NU dalam terkait qanun asasi terkait kemakmuran masyarakat. Sistem yang dibangun kekuatan bersama untuk memberikan maslahat kepada masyarakat. Membantu kualitas hidup dengan manfaat membantu memkamurkan masyarakt,” pungkasnya. (Fadli RS/Kendi Setiawan)