Tiga Persoalan di Balik Lahirnya BMT Mitra Dana Sakti

Sragen, NU Care – Lazisnu

Semangat dakwah MWC NU Pasir Sakti Lampung Timur pada tahun 2007 dikarenakan tiga faktor berupa realita seluruh masyarakat, persoalan pendidikan formal dan non-formal, dan fasilitas kesehatan memprihantinkan.

Masyarakat NU di Pasir Sakti rata-rata menengah ke bawah. Diperparah tidak ada dukungan pengembangan ekonomi berupa permodalan. Sehingga banyak warga NU terjerat rentenir.

“Situasi ini sering dimanfaatkan oknum tertentu untuk bermain simpan pinjam pribadi yang sangat memberatkan. Bunga sangat tinggi 10-20%. Banyak kasus warga jatuh terhadap rentenir dan berakhir disita asetnya,” papar di Aktivis Ekonomi Umat Mas’ud Ulum dihadapan ratusan peserta rapat kordinasi nasional (Rakornas) NU CARE-LAZISNU di Pondok Pesantren Walisongo, Sragen, Selasa (30/01) pagi.

Bahkan, masyarakat sampai memberikan nama Bank Plecit Indonesia (BPI)  yang selalu hadir di pasar dan warga untuk meminjamkan uang.

“Ini berdampak, bahkan pengurus NU sendiri terjerat oleh rentenir. Misalnya disiti rumahnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, persoalan pendidikan baik formal dan non formal  fasilitasnya memprihantinkan.

“Di sana ada, satu guru TPQ dengan murid 50 fasilitasnya memprihatinkan. Gedung tidak layak, padahal generasi muda dipersiapkan secara baik secara pendidikan,” tegasnya.

Tak sampai disitu, fasilitas kesehatan lebih memprihatinkan dikarenakan akses jauh dari Pasir Sakti.  I daerah tersebut pada 2007 baru ada puskesmas.

“Fasilitas rumah sakit jauh. Sampai ada ungkapan kalau ke rumah sakit, pertanyaanya orangnya mati atau tidak ?,” katanya.

Tiga persoalan itu menjadi titik tolak untuk bangkit dari ulama Pasir Sakti untuk memberikan jawaban  konkrit NU yang hadir secara nyata terhadap persoalan masyarakat.

Pada tahun 2007, MWC Pasir Sakti Lampung Timur memulai rencana strategis selama 15 tahun ke depan untuk mengentaskan perekonomian rakyat, pendidikan formal dan layanan fasilitas kesehatan.

“Di lima tahun pertama, kita fokus dakwah ekonomi 2007-2012. Konkritnya adalah mendirikan BMT Dana Sakti. Tahun kedua fondasi pendidikan formal dan non formal pada  2012-2018. Dimulai 2018 fondasi dakwah kesehatan,” ungkapnya.

Ulum, sapaan akrabnya mengatakan bahwa fondasi dakwah ekonomi besar dan  terus berkembang ada sebuah gambaran strategi ekonomi. Sejak 2012 kami letakkan fondasi.

“ilustrasi seperti bangunan, sudah jadi fondasinya akan kokoh. Sehingga tahu dimana ruangan yang baik untuk bangunan tersebut,” tambahnya.

Mas’ud Ulum, mengawali konsolidasi para tokoh dari rumah ke rumah untuk dihadirkan, bahwa dakwah ekonomi menjadi besar dan menjadi persoalan yang harus dikawal oleh para kiai

“Murtad umat karena kelaparan maka ulamanya akan ada di neraka. Maka yang disalahkan adalah ulamanya,” tuturnya

Modal awal 30 juta untuk  mendirikan BMT, hingga tahun 2017 asetnya sudah 60 miliar dengan 10 kantor cabang di daerah Lampung Timur.

“Dari tahun ke tahun aset yang kami dapatkan meningkat. Kuncinya adalah komitmen dari pengelola sendiri,” ungkapnya.

Pencapaian, BMT Dana Sakti merupakan tekad pengurus untuk berkomitmen melayani umat dan memberi semangat kepada pegawai di kantornya

“Jangan ada kata menyerah setelah bismillah, karena bergerak di ekonomi NU. Berarti siap untuk ditolak, ” pungkasnya.

Hingga Selasa (30/01) acara Rakornas NU CARE LAZISNU dijadwalkan akan mengunjungi peletakan batu pertama pembangunan RS. Sido Wara Sumber Lawang oleh Rais Aam PBNU, K.H Ma’ruf Amin dilanjut pengajian hari lahir NU ke-92. (Fadli RS – SN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *