belajar makna muharam lazisnu jateng

Belajar Makna Muharam dari Warga Lombok

Oleh Aji Bayu Wicaksono*
Ingin sekali hati saya berbagi sedikit pada keluarga, saudara, teman dan semuanya warga NU, tentang keindahan rasa di hati yang saya rasakan di pulau seribu masjid sekarang ini.
Sebelum rencana pulang ke kota kelahiran Malang dari tugas yang diamanahkan kepada saya dari PWNU Jatim di Cluster Kesehatan NU Peduli Lombok saya diberikan hadiah oleh Allah yang Maha Pemberi Petunjuk melawati hamba yang shaleh, Tuan Guru Haji Sukarman. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Bayyinul Ulum di Santong, Lombok Utara. Semoga Allah SWT memberikan kepada beliau serta masyarakat Lombok ridho-Nya. Aamiin.
Cerita indah ini saya mulai dari sudut pandang sebagai anak bangsa Indonesia dan sebagai penerus perjuangan kemerdekaan yang telah diwariskan oleh pendahulu bangsa ini. Saya sekali lagi sangat bersyukur atas karunia-Nya yang dikaruniakan oleh Allah Yang Maha Indah telah memberikan bangsa ini keindahan luar biasa.
Pulau nan cantik ini memanjakan mata dan hati saya akan panorama keelokan alamnya. Mulai dari pegunungan sampai lautnya yang membuat saya takjub. Kerupawanan alam ini dilengkapi dengan kekayaan serta kearifan budaya yang menggambarkan keberagaman dalam kesatuan.
Meskipun telah terjadi bencana gempa sejak tanggal 29 Juli 2018 sampai detik saya menulis, keindahan di atas dalam benak saya semakin eksotis saja. Hal ini dikarenakan warna dari rasa syukur dan semangat bangkit manusia-manusia yang belum pernah saya lihat, pikir, dan rasakan sebelumnya.
Senin sore, 10 September 2018 menjelang malam, di salah satu pos NU Peduli yang berlokasi di Pesantren Bayyinul Ulum, warna langit mulai memerah pertanda bumi akan diselimuti oleh kegelapan malam. Adzan maghrib berkumandang dari pengeras suara di pos pengungsian yang juga berfungsi sebagai masjid darurat yang dibangun oleh warga, LAZIS Haromain dan Tim NU Peduli.
Malam ini saya merasa senang sekali karena besok bertepatan dengan tahun baru Hijriah. Namun, di lain pihak saya sedikit sedih karena di malam tahun baru Hijriah ini tidak berkumpul dengan keluarga. Semoga dengan ibadah ini berkah dan barokah tercurahkan kepada orang tua, istri, anak, keluarga dan guru-guru saya.
Hikmah Muharam tahun ini sangat berkesan di hati saya. Lebih dari itu, saya pun merasa mendapat sesuatu yang lain. Hal ini berawal dari doa setelah dzikir usai shalat maghrib berjamaah. Tiba-tiba saya teringat paman saya, almarhum Dwi Waluyo. Beliau adalah perantara dari titik tolak hidup saya sampai sekarang ini.
Ingatan tentang almarhum paman, ditambah dengan kekhusyukan dari Tuan Guru yang sedang berdoa yang diamikan oleh para jamaah. Tidak sadar air mata dari kedua mata saya meleleh. Dalam benak saya hanya menyesal dan menyesal terus-menerus karena iri dengan masyarakat di Desa Santong ini. Mereka masih memiliki telaga yang bisa menghapuskan dahaga ketika kehausan melanda yakni sesosok manusia yang tulus membimbing masyarakat Santong. Kekhusyukan bertambah manakala dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin, Tahlil, lalu mau’idah hasanah dari Tuan Guru.
Isi dari nasihat kebaikan tersebut sangat memasuki alam bawah sadar saya sehingga me-recall kembali nasihat-nasihat dari anutan saya, almarhum kiai saya. Rasa di hati kembali terbuka dan lelehan air mata kembali berlomba berlarian menuruni pipi manusia yang kurang bersyukur ini. Semoga ketika pintu hati bisa terbuka maka pintu hidayah akan terbuka pula, seperti yang telah tertulis disalah satu bab dalam kitab Al Hikam.
Suara indah nan sejuk Tuan Guru yang juga didaulat mengemban amanah menjadi Rais Syuriah Lombok Utara ini, melewati pengeras suara menjelajahi seluruh Dusun Subak Sepuluh, yang diantarkan oleh udara dingin dari kaki Gunung Rinjani. Nasihat-nasihat khas ala NU pun menghiasi relung iwa saya, mulai dengan nada tegas sampai dengan gaya guyonan. Namun, isi nasihat dari beliau sungguh sampai di pikiran kemudian meresap ke dalam sanubari.
Banyak sekali pesan yang saya dapat dari nasihat beliau mulai dari bagaimana kita ketika diberikan kesulitan maka akan selalu ingat Allah. Lalu ketika kesenangan dan kenyamanan menghampiri kita maka akan berkolerasi dengan memudarnya nilai-nilai akan mengingat Sang Maha Melihat apa pun di hati kita.
Tidak hanya itu, pesan-pesan akan keutamaan di hari Asyura pun diingatkan kembali kepada kami semua sebagai santri. Di antaranya yakni di mana hari Asyura bertepatan dengan penciptaan Nabi Adam as serta waktu di mana Nabi Adam as bertobat, Nabi Isa as dan Idris as diangkat ke surga, dan keutamaan lainnya.
Selain pesan-pesan di atas, ada salah satu pesan yang membuat saya sangat malu pada diri saya sendiri. Pesan tersebut tentang keutamaan memberikan santunan anak yatim. Mungkin sudah biasa bagi umat Islam ketika bulan Muharam memberikan santunan kepada anak yatim. Pesan yang indah tersebut bukan masalah memberikan harta kita kepada anak yatim, tetapi saat kapan kita memberikan harta kita kepada anak yatim tersebut.
“Cukup mudah kita memberikan harta kita kepada anak yatim saat kita tidak dalam kondisi susah. Cobalah Anda memberikan harta terbaik anda semua saat musibah seperti saat ini,” kata Tuan Guru Haji Sukarman.
Saya dan para jamaah yang hadir seperti disudutkan dalam sisi kelam kita menjadi manusia. Semoga saya dan masyarakat Lombok bisa melakukan sebisa-bisanya, sebaik-baiknya dan seikhlas-iklhasnya.
Di pengujung nasihat Tuan Guru, ia berpesan kepada kita tentang  perjuangan keumatan di NU dengan menggunakan bahasa simbolisasi, yaitu jangan tanya apa yang kamu dapatkan dari yayasan, tapi apa yang telah kamu berikan ke yayasan.
Dari sini saya mencoba menarik benang merahnya dan menanyai diri saya sendiri, Apa yang sudah saya berikan untuk NU?
Usai mau’idah hasanah, kami melakukan shalat Isya berjamaah. Pada rakaat pertama beliau membacakan surat At-Takasur yang mengingatkan saya akan sikap saya yang selalu bermegah-megahan. Pada rakaat kedua beliau membaca surat ke-103 yang mengingatkan saya akan almarhum kiai saya akan pesan beliau tentang waktu yang tidak bisa kembali. Kiai saya sering mengingatkan saya bagaimana terus menjadi baik dengan saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran.
Di balik perjalanan indah ini ijinkan saya berucap matur nuwun untuk Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berangkat mewakili perhimpunan yang mulia ini. Ucapan terima kasih terhaturkan kepada PWNU Jatim yang telah membonceng saya sampai di salah satu bagian bumi nan indah ini.
Tidak lupa pula para relawan NU Peduli Lombok dari PBNU sampai akar rumput NU yang tidak mungkin saya sebutkan satu-satu, karena kalian semua begitu hebat.
Perkenankan saya meminta sesuatu yang sangat penting untuk berkelanjutan kegiatan NU Peduli Gempa Lombok yang insyallah akan berjalan lima bulan ke depan dan kegiatan-kegiatan keumatan NU lainnya. Mari kita salurkan zakat, infak, sedekah TERBAIK kita ke LAZISNU untuk perjuangan keumatan yang lebih baik. Karena, saya ingat sekali akan pesan orang bijak, “Jangan sangka kamu menolong orang yang terkena musibah, pada hakikatnya kaulah yang ditolong oleh orang yang terkena musibah tersebut.”
Dusun Subak Sepuluh, Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, 1 Muharram 1440 H/11 September 2018-01.00 WITA.
Al-Faqiir Ilaa Rabbih, Aji Bayu Wicaksono
LOMBOK BANGKIT!!!
*Penulis adalah anggota Tim NU Peduli bertugas di bagian pelayanan kesehatan.

Sumber : www.nu.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *