rasya masjid lazisnu jateng di Lombok

Rasya di Masjid Darurat dalam Sebuah Perjumpaan

Adik kecil itu namanya Rasya (6), Ia tinggal di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia ceria seperti hari-hari biasanya, polos, kesehariannya hanya bermain dan di sela-sela waktu bermainnya, Ia belajar mengeja huruf hijaiyah dari ayahnya, yang merupakan salah satu ustadz di Pondok Pesantren Nurul Yaqin di Pemenang.

Kurang lebih sebulan terakhir, Desanya menjadi terdampak gempa bumi cukup parah dibanding daerah-daerah lain di Lombok, NTB. Karena masih kanak-kanak, dari raut wajah Rasya tidak terlihat trauma sedikitpun. Berlarian, bermain di halaman pesantren, sesekali mencuri perhatian ke tim siaga bencana PWNU Jawa Tengah untuk Lombok.

Sore itu, kira-kira setengah jam sebelum adzan Maghrib terdengar, Rasya menuju tempat dimana tim siaga bencana beristirahat setelah dari pagi mendirikan Masjid Darurat. Tepatnya di tenda pleton yang berdiri sekitar 10 meter dari bangunan pesantren yang rusak akibat tidak menahan gempa berkekuatan 7 SR itu.

“Kakaaakkk…..” Teriak Rasya sembari setengah berlari ke arah kami dengan tangan kanan menenteng buku bergambar bermacam-macam hewan.

Sepertinya Ia perlu teman bermain, karena orang tua Rasya masih sibuk membersihkan puing-puing bekas reruntuhan rumahnya. “Sini Rasya.. kita main..” sahut salah satu relawan. “Rasya jam segini kok belum mandi?” Lanjut tanya relawan kepada Rasya yang hanya Rasya respon dengan “nyengir”, kemudian diikuti tawa relawan yang berjumlah 20 an relawan itu.

Hari semakin petang, suara murrotal terdengar melalui tape tua dari Masjid Darurat yang belum sepenuhnya rampung kami kerjakan. Rasya, adik kecil yang cerdas itu berkelakar, “Kakak itu orang-orang sudah pada datang,” ujar Rasya yang berusaha memberitahu kami bahwa masyarakat mulai menggunakan masjid darurat yang kami dirikan untuk shalat berjamaah.

Rasya kemudian bergegas menyusul ayahnya yang duduk di atas puing reruntuhan di bekas rumahnya, ayah Rasya tampak kelelahan karena seorang diri membersihkan segitu banyaknya pecahan batu bata yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tanah berserakan, karena sudah hancur hampir tidak bisa diterka bahwa itu bekas batu bata.

Adzan terdengar, walaupun di Lombok, nada adzannya seperti nada adzan yang biasa kita dengan di Jawa, cengkoknya sangat familiar di telinga kami. “Bang ayo kita gunakan masjid daruratnya untuk berjamaah” ajak salah satu warga yang sore itu memakai sarung kotak-kotak dan baju Koko. Kemudian kita semua berjamaah, angin ke segala arah, karena lokasi yang dekat pantai dan perbukitan itu.

“Bang terimakasih atas bantuan Masjid Darurat yang didirikan ini, ini selain untuk berjamaah, juga untuk sarana kami berkumpul, membahas apa saja, untuk keperluan masyarakat pasca gempa bumi kemarin,” begitu kata salah satu warga kepada relawan.

Badan ini lemas seketika, saya tidak membayangkan sebelumnya, kalau Masjid Darurat sederhana ini sangat disyukuri masyarakat. Kami seperti mendapat suplemen baru setelah letih dan lelah mulai menghinggapi kami para relawan.

Dari perjumpaan itulah, kami sadar bahwa Masjid Darurat menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat Lombok, NTB. Menguatkan mental, mengembalikan semangat, dan menghilangkan trauma masyarakat melalui penguatan religiusitas.

Ternyata masyarakat Lombok, NTB, butuh aksi nyata untuk membangkitkan kembali semangat mereka. Mari kita bangun Masjid Darurat sebagai sarana beribadah, berkumpul, dan bercengkerama untuk masyarakat Lombok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *