Relasi Kurban dan Kesalehan Sosial

Rabiah Al-Adawiyah pernah berkata, “cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya akan mengenalinya. Namun, siapa yang mencoba untuk menyifatinya, pasti akan gagal.”

Konteksnya dengan Idul Adha yang tidak lama lagi akan kita temui, tentu momentum tersebut tidak akan kita lewatkan begitu saja tanpa sesuatu yang berarti. Salah satu cara untuk memanfaatkannya adalah dengan berkurban.

Sedikit menelisik sejarah, Kurban diawali dengan kisah mimpinya Nabi Ibrahim As. Yang mimpi mendapatkan perintah dari Allah SWT. untuk menyembelih anaknya, Ismail. Sebagai bentuk cintanya Nabi Ibrahim As. kepada Tuhannya, maka Nabi Ibrahim As. rela menyembelih Ismail.

Kisahnya tidak berhenti di situ, Atas kerelaan hati Nabi Ibrahim As. untuk mengikuti perintah Allah dalam mimpinya, Allah pun menggantinya dengan hewan untuk dikurbankan, akhirnya Ismail sebagai putra yang sangat dikasihi Nabi Ibrahim As. pun tidak dikurbankan.

Lebih dari itu, Kurban selain bisa dimaknai sebagai ritus keagamaan yang bernilai ibadah, juga sebagai wujud kepedulian sosial. Memberikan kurban pula sebagai simbol kerelaan dan keikhlasan untuk berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Dimensi sosial inilah wujud kesalehan sosial yang dimiliki orang-orang yang menginginkan ridlo Allah SWT.

Sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad SAW. “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” yang artinya sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai kemanusian.

Kurban merupakan momentum untuk introspeksi diri, bahwa proses mencari ridlo Allah tidak sebatas pada semangat menjalankan ritus-ritus keagamaan, namun nilai kemanusiaan harus pula berjalan bersamanya.

 

Media Konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *